ANAK SHOLEH

Diposting pada: 2016-10-05, oleh : Admin1, Kategori: Artikel

KARYA:Abdul Madjid AL-aiman

 

Anak Sholeh

sing janten budak sholeh “(bahasa sunda)

Kata terakhir yang selalu terdengar oleh setiap anaknya yang keluar dari kedua orang tuanya beriring dengan salam dan lambaian tangan sebelum berangkat mengemasi  tasnya menuju pesantren.

Anak sholeh? ,maka mulai muncul tanda tanya besar dalam diri kita tentang apa itu anak sholeh,karna dengan beriringnya waktu dan cepatnya pengaruh globalisasi yang merasuk kedalam individu setiap orang di lingkungan sosialnya ,begitu sulit untuk menemukan sosok “anak sholeh” ini  memberi corak menarik  kepada temannya yang lain.

Seperti dikenal kebanyakan orang saat ini ,di era modern anak sholeh hanyalah di terjemahkan sebagai sosok yang berbakti terhadap orang tuanya ,yang turut dan patuh dengan nasehat kedua tuanya padahal hal ini lebih spektakuler dan berharga dihadapan siapapun ,orang tua ,guru,bahkan yang terpenting adalah  Allah sebagai dzat yang berhak dan pantas untuk di ibadahi

Seperti asal katanya yang menyusun kata sholeh ini, yaitu solaha (bahasa arab) yang artinya benar atau beres ,jadi anak sholeh adalah anak yang lebih pantas untuk dibahasakan sebagai sosok yang yang benar dan beres dalam melaksanakan tugasnya kapanpun ,dimanapun dan kepada siapapun dan tentunya sesuai dengan peran yang dilakoninya ,semisal kita menjadi seorang murid .maka yang menjadi nilai sholeh adalah ketika kita selesai dan beres melakukan tugasnya dengan benar,dan tepat waktu untuk di kumpulkan lalu berlaku baik kepada guru dan teman –temannya ,karna orang yang sholeh memiliki dua aspek utama menurut sisi sosial dan akidah ,sehingga membuat sebuah kesesuaian yang seimbang.

Setiap orang tua tentu mengiginkan sosok bercorak ini hadir di tengah –tengah mereka, karna seseorang dengan corak ini bukanlah bentuk yang biasa ,mereka bisa menjadi pembendarahaan amal mereka walau jasadnya yang kelak mengharapkan hal itu bukan sosok yang bergerak lagi di muka bumi ,seperti  sabda rosul”jika meninggalnya anak adam maka terputuslah segala amalannya kecuali dengan tiga perkara (yang salah satunya adalah) anak sholeh yang selalu mendo’akan kedua orang tuanya  maka dari itu sangat beruntunglah sosok orang tua yang mampu memiliki sosok anak sepert ini karna merekalah sosok spektakuler yang mampu menembus hijab amalan seseorang yang telah bertemu dengan ajalnya di kemudian hari .

Lalu datang kembali pertanyaan lain dalam diri kita setelah mendengar ulasan di atas “bagaimana orang sholeh ini dapat di cetak?”,maka tanpa kita sadari hal ini telah tertera dan terulas dalam satu kata bijak like father like son (buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya),bahwa anak sholeh tidak akan tercetak tanpa orang tua yang sholeh pula ,karna  jelas bahwa cetakan kue berbentuk bintang tak mungkin menghasilkan kue yang berbentuk bulan,  begitu pula anak yang sholeh tak lahir dari rahim,  sperma,serta pelatihan dari kedua orang tuanya yang  tidak sholeh  ,maka dari itu pengaruh besar dari orang tua akan berakibat besar terhadap anak yang dibimbingnya.
maka apakah orang tua yang  sudah tidak mampu untuk membimbing tak akan menghasilkan  generasi yang  mampu untuk untuk menjadikan anak yang sholeh ini hadir menghiasi hari-hari mereka ? ,tentu jawabannya adalah bisa, namun hal ini bukan pengaruh dari orang tua yang akan membimbingnya dari awal ia dilahirkan ,karna hal ini sudah jelas bahwa orang tua sudah tidak mampu mencetak sosok yang seperti ini ,disebabkan oleh pendidikan dan sosial yang buruk  yang dialami oleh orang tuannya, maka jalan keluar kedua untuk mewujudkan  hal ini dengan memasukannya  kedalam pendidikan yang berbasis pesantren ,karna pesantren merupakan tempat diajarkannya segala bentuk materi keislaman ,  yang nantinya mampu mencetak dan mengangkat seseorang mendapat gelar sholeh, karna mau tak mau tempat  ini (pesantren) merupakan tempat pendidikan kedua setelah orang tua yang nantinya akan membentuk setiap peserta didiknya menjadi seseorang yang digelari sholeh ini ,selain itu seseorang untuk menjadi sholeh haruslah menjalani kehidupannya ditempat yang memiliki sosial yang baik tanpa di pengaruhi campur tangan sosial lain yang keluar dari ajaran islam yang mengantarkan  akhlak yang terpuji  untuk tercetaknya hal yang dicita-citakan dengan memasukan kedalam pesantren ,seperti sebuah sejarah nabi muhammad yang semasa kecilnya di asuh oleh siti halimah di sebuah perkampungan di daerah arab, yang mana ketika itu mekah merupakan tempat yang sedang bergejolaknya hal-hal yang buruk ,sehingga dengan mengasuhnya  ditempat yang jauh dari mekah merupakan pengaruh dan pembelajaran yang baik untuk Muhammad bin Abdillah sehingga beliau mampu menjadi anak yang baik.

Sosok yang sholeh adalah sosok seseorang yang sulit dijumpai ,di tempat manapun seperti sebuah pengibaratan rosul terhadap anak sholeh ini ,seseorang yang sholeh diibaratkan sehelai bulu berwarna putih diantara kerumunan bulu hitam ,sedangkan seseorang yang sholehah bagaikan gagak putih ,yang tidak pernah ada namun kehadirannya bisa untuk di usahakan, mengapa tidak ? karna dengan kita memelihahanya menjaganya lalu dipulas dengan warna putih ,itupun akan menghadirkan adanya keberadaan gagak putih.

Maka dari itu jangankan kita untuk mencetak anak yang sholeh ini di  tempat dengan sosial yang buruk   di tempat yang  baikpun kita sulit untuk menemukannya.maka dengan di didiknya seorang anak di sebuah pesantren merupakan usaha terbesar untuk orang tua mencetak kader-kader islam yang sholeh ini hadir .

Kalau begitu tunggu apa lagi .........

Mondok yukkk......

 

 


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  Opsional, boleh kosong
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini