Tas Sandal

Diposting pada: 2016-12-17, oleh : Admin1, Kategori: Artikel

ditulis oleh : Abdul Madjid Al Aiman

                  Santri Kelas 5

 

       Setiap pondok punya cerita masing –masing, dan tentunya setiap pondok punya cara bagaimana mengatur setiap santrinya, ada yang dengan kekerasan, dengan lembut bahkan lebih parah didiamkan

          Di setiap pondok pesantren, atau singkatnya pon-pes selalu banyak cerita tentang namanya “kehilangan”. Alasannya pun macam-macam ,ada yang jorok ,ada yang salah pakai ,ada yang salah ngambil,dan bahkan ada yang lupa diri, hingga barang orang lain disangka milik sendiri ,walaupun pada barang yang di ambilnya sudah di beri nama  .seringnya kehilangan pada alas kaki atau lebih jelasnya yaitu “sandal” .jadi mau gak mau masih ada orang yang tidak memakai alas sandal alias "nyeker" .terkadang kasus ini terjadi seperti sebuah lingkaran :misalnya sandal si A putus lalu ia memakai sandal si B ,dan si B mengambil sandal si C dan akhirnya si C nyeker ,dan santri  satu sama lain saling lupa diri padahal hal itu  sudah di ketahui salah benarnya .maka dari itu para pengasuhan di Pondok Pesantren Baitul ‘Izzah Nusantara  dari kalangan asatidznya membuat sebuah sebuah inovasi baru yang memotong kebiasaan lupa diri ini di pondok pesantren Baitul ‘Izzah Nusantara hingga akarnya yaitu “tas sandal “ dengan metode ini kita menjaga sandal yang tergeletak tetap terjaga dari orang-orang yang masih lupa diri ,kita menggunakan ini di berbagai tempat dan keadaan apapun saat pergi ke masjid , ke kamar atau tempat apapun itu yang berbau dengan sandal .

          Selain untuk menjaga dari kehilangan yang terduga dan tidak terduga ,kantong sandal ini juga menjaga sandal ada tetap bersih dan kering terutama dalam kondisi dengan curah hujan tinggi ,sehingga sendal kita akan cepat kotor dan kita tidak akan terus nyuci sandal terus menerus, sehingga kegunaan air berlebihan dan terhambur sia-sia .

          Kami diwajibkan menggunakan tas sandal ini sehingga kami menyebut kebiasaan ini menjadi istilah “sunnah pondok” sunnah pondok selain melatih dalam keistiqomahan dalam berlaku kebaikan atau tetap istiqomah dalam melakukan apapun itu

          Dalam penggalan Mars Pondok kami sudah tertulis “wahai pecinta sunnah” pastilah jika seseorang sudah dinobatkan sebagai pencipta maka apapun yang dilakukan yang dilakukan condong terhadap yang dicintai

          Maka dari itu kami haruskan menjadi orang yang mencintai sunnah yang nantinya harus teraplikasi dalam kehidupan setiap santri Baitul ‘Izzah Nusantara yang bisa mengantar kita menuju mardotillah

 


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  Opsional, boleh kosong
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini